Mbah Wiji TKW 55 Tahun Jadi Korban Trafficking di Malaysia ... Kasihan

Mengulas nasib buruk TKW yang berada di negeri Malaysia seolah tak ada habisnya. Namun persoalan TKW tidak sekadar disebabkan kekerasan maupun gaji yang tidak dibayar oleh majikannya. Beberapa agen nakal pun tega melakukan penipuan kepada TKW.

Inilah yang dialami oleh Sudarwiji atau yang biasa disebut Mbah Wiji. Nenek berusia 55 tahun tidak menyangka bila dirinya ternyata telah dijual agen yang mengirimnya ke Malaysia.

"Saya sudah kerja di rumah majikan 6 bulan, tapi kalau saya minta gaji tidak dikasih. Katanya majikan, dia sudah beli saya 8500 ringgit ke agen. Saya disuruh kerja 2 tahun," ujar Wiji kepada detikcom di Rumah Kita, Jl Tun Rajak, Kuala Lumpur Malaysia, Sabtu (26/3/2011).

Gambar Ilustrasi ...
Semula TKW asal Kediri, Jawa Timur ini tidak percaya bahwa ia telah dijual oleh Agen yang membawa ke Malaysia. Namun setelah berada di penampungan Rumah Kita, ia baru diberitahu teman-teman lainnya bahwa ia telah dijual. Modus yang sama juga menimpa TKW lainnya.

"Sayakan sudah tua, mosok masih payu (laku). Ya saya tidak percaya, tapi kok katanya yang kaya saya ini banyak. Saya dijual jadi pembantu sama agen," terang Wiji.

Awal kedatangan Wiji ke Malaysia karena diajak oleh seseorang bernama Pak Ambu, yang merupakan tetangga desanya. Wiji dijanjikan akan bekerja di Malaysia sebagai PRT dengan upah 5000 sampai 6000 ringgit perbulan.

"Saya sudah sakit-sakitan, tangan saya sering mati rasa, tapi kalau minta pulang ke Indonesia dibilang, saya harus bayar 8500 Ringgit. Karena majikan saya bayar saya segitu untuk dua tahun. saya sudah tidak kuat lagi kerja," tutur Wiji sambil mengelus dadanya.

Proses kedatangannya ke Malaysia pun terhitung menyedihkan. Bila TKW berangkat dengan menggunakan pesawat terbang, Wiji harus rela dengan menggunakan kapal laut. Wiji semula diberangkatkan dari Surabaya menuju Medan, Sumatera Utara. Setelah itu, Wiji kembali melanjutkan perjalan ke Malaysia dengan menggunakan kapal laut dari Batam.

Oleh seseorang yang mengajaknya ke Malaysia, semua data diri dirubah termasuk umurnya dipalsukan menjadi 48 tahun. Proses pembuatan foto untuk paspor juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Waktu di kapal, saya juga disuruh pura-pura tidak kenal saya yang ngajak saya. Saya cuma disuruh diam saja di bawah, saya nurut saja, soalnya katanya harus begitu," kenang Wiji saat mulai meninggalkan tanah air.

Agen yang membawa Wiji kemudian menulis sebuah alamat di secarik kertas. Sang Agen berpesan, bila telah sampai di Malaysia dan ditanya petugas, Wiji diminta mengaku akan menjenguk anaknya yang telah bekerja dan mempunyai istri warga Malaysia.

"Tapi pas ditanya petugas Malaysia, saya bingung karena petugas nanya siapa nama anak saya dan istrinya. Saya tidak bisa jawab dan mau nangis karena saya tidak dikasih tahu siapa nama anak saya dan istrinya, saya cuma ngasih kertas alamat saja," kenang mbah Wiji sambil menitikan air mata.

Saat dirinya dimintai keterangan oleh petugas imigrasi Malaysia, agen yang membawa tidak diketahui dimana. Wiji pun tidak bisa berbuat banyak selain meminta belas kasihan kepada petugas, bahwa ia mau ke Malaysia untuk menemui anaknya.

Dengan berbekal paspor kunjungan, akhirnya petugas tersebut meloloskan Wiji. Setelah lolos, baru agen yang membawanya tersebut menghampirinya dan mengajaknya ke Kuala Lumpur.

"Saya disuruh diam, saya cuma dikasih roti tawar. Terus saya ditempatkan di rumah majikan," kenang Wiji.

Namun setelah di rumah majikan, nasib baik pun tak mengunjungi Wiji. Makian dan kekerasan kerap ia terima dari keluarga sang majikan. Bahkan dalam sehari, Wiji mengaku hanya diberi jatah makan satu kali, saat makan siang.

"Saya sudah putus asa, sudah pengen bunuh diri terus, karena minta pulang tidak dikasih. Tangan saya ini kalau kerja sering sakit, tapi majikan tidak percaya terus, saya cuma bisa nangis sambil berdoa. Wolo-wolo kuato gusti Allah," sebut Wiji.

Hingga suatu siang, Wiji diajak majikannya lalu diturunkan di sebuah tempat. Wiji dibuang begitu saja di tengah belantara kota Kuala Lumpur.

"Saya ditinggal jam 11.00 siang, saya bingung tidak tahu mesti kemana. Saya cuma jalan terus saja, tidak tahu kemana. Terus saya ketemu perempuan yang kasihan sama saya karena saya jalan sambil nangis. Saya terus dianterin ke sini (KBRI), sampai sini jam 8 malam," kenang Wiji.

Kini Wiji sudah berada di Rumah Kita, penampungan sementara bagi para TKW. Wiji dan 40 rekan lainnya saat ini sedang menunggu putusan dari Jabatan Mahkamah Tenaga Kerja Malaysia. Wiji, melalui KBRI sedang menuntut gaji yang merupakan haknya selama bekerja di rumah sang majikan.

"Kapok mas, saya sudah tidak pengen lagi ke sini, saya mau di rumah saja. Saya juga mau laporkan ke polisi pak Ambu yang sudah ngajak saya ke Malaysia. Saya jadi sengsara di sini,beda sama janjinya dulu," imbuhnya.

detik.com