Inilah Beda NII Asli dan Gadungan ... Asli Atau Palsu Lebih Baik NKRI

Sejak kasus dugaan cuci otak yang dialami Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Perhubungan, Laila Febriani alias Lian, disusul kasus serupa yang menimpa sejumlah mahasiswa di Malang, Jawa Timur, organisasi Negara Islam Indonesia (NII) sontak jadi sorotan.

Sejumlah orang yang mengaku korban NII lantas bermunculan, sejumlah fakta negatif NII mereka beber: dari cuci otak, wajib setor dana, sampai halal melakukan apa saja demi memenuhi kewajiban setor uang pada organisasi. Ada yang mengaku menipu orang tua atau mengkoordinasi pembantu untuk merampok rumah majikan. Bahkan konon, ada yang sampai melacurkan diri.

Pakar terorisme sekaligus mantan anggota NII, Al Chaidar, mengatakan, masyarakat harus membedakan mana NII asli yang tujuannya mendirikan negara Islam dengan NII gadungan. "NII yang palsu membuat indoktrinasi berlebihan. Sementara itu, NII asli melakukan internalisasi ajaran dalam kehidupan sehari-hari, tak menanamkan doktrin," kata dia saat dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Selasa malam 26 April 2011.

"NII asli, prosesnya orang tidak dipaksa-paksa, tidak dikarantina, tidak dicuci otak, tidak diperas," kata dia. "Sementara itu, yang mencuat saat ini, kasus cuci otak, siapa yang terjerat disikat uangnya, waktu, dan perhatian."

NII palsu, tambah dia, sama sekali tak berkeinginan membentuk negara Islam. "Justru ingin membuat kapok, jera, orang-orang yang memiliki pandangan darul Islam (negara Islam)," kata dia. Al Chaidar mencium dugaan keterlibatan penguasa di masa lalu di balik NII palsu. "Kepentingan negara menjaga ideologi, kemudian membuat rekayasa tertentu."

Al Chaidar mengaku pernah bergabung dengan NII Azaytun KW9 dari 1991 hingga 1996. Apa yang dia alami selama bergabung? "Seperti yang ada sekarang ini, banyak cuci otak. Saya pimpinan menengah, anggota saya tidak disuruh mencuri, apalagi melacur," kata dia.

Namun, pertentangan batin dan campur tangan pimpinan di atasnya yang menghalalkan penipuan, membuat Al Chaidar hengkang. "Saat itu saya menjabat sebagai Bupati Bekasi Timur," jelas dia.

Sementara itu, soal palsu atau asli NII juga disampaikan mantan pejabat NII, kepala bagian Pembinaan di bawah wilayah 7, Ahmad Nurdin (41).

Ia mengatakan, tindakan hipnotis yang dilakukan NII gadungan telah mencoreng citra NII asli. Menurut dia, sangat mudah membedakan antara NII asli dengan yang gadungan. "Saya tegaskan, NII yang asli tidak pernah melakukan hipnotis," ujarnya di Masjid Al Fajr.

Menurut dia, NII gadungan lahir sekitar 1990-an. Ketika itu NII pecah kongsi saat kepemimpinan Panji Gumilang. Saat memimpin NII, Panji selalu bertindak otoriter. "Ahmad Zaelani diganti oleh Panji Gumilang. Saat memimpin, Panji kerap bertindak otoriter dan menyalahgunakan wewenang, lalu banyak anggota NII yang mengundurkan diri," ungkapnya.

Soal penggalangan dana, ia mengaku pendanaan NII berasal dari sodaqoh anggota. Sodaqoh dilakukan sebagai tindak penyucian diri. "Kalau mau ketemu pemimpin, anggota harus dalam keadaan fitrah alias bersih, jadi harus sodaqoh. Namun, Panji menyelewengkan wewenang tersebut untuk kepentingannya sendiri," pungkasnya. - nasional.vivanews.com -

NB : Asli apa Palsu ... Lebih Baik NKRI